Setan-setan sedang merasuki jari-jari gue, gue pengen nulis lagi malem ini.
Barangkali, judul post kali ini jadi lebih renyah seandainya 'God does exist'.
Tapi dalam kuliah agama yang gue dapet, istilah tuhan nggak ada sebenarnya dalam islam. Yang ada ya Allah. Agak rancu juga kalo kadang kita pake kata ganti 'He' kalo nulis apapun terkait Tuhan dalam bahasa Inggris..
Padahal lo tau Allah tidak berjenis kelamin, bukan cowok bukan juga cewek :)
So, think twice!
Sekarang gue akan menggunjing salah satu teman gue yang super duper.
Namanya Fuu. Fuu adalah singkatan dari nama panjangnya. (kalo penasaran, silahkan googling hehe)
Dulu pas zaman SMA, kelas XII. Lagi dewa-dewanya galau pilih jurusan kuliah, galau kuliah di mana. Fuu temen gue ini, pengen banget (waktu itu) (nggak tau sekarang gimana) masuk HI. Dia pengen jadi diplomat, kalau gue tidak salah terka. Yah, namanya juga hasil kepo..
Temen OSIS gue ini cerdas, berprestasi, aktif organisasi, exist banget pake banget, perfect lah pokoknya. Tapi sayang dia bukan tipe gue :p
Meskipun nggak terlalu deket, gue selalu merasa punya keterikatan batin (atau apalah itu) sama dia. Gue yakin kalian juga punya teman yang seperti ini. Atau cuman gue?
Dari fakta bahwa dia cerdas dan well-qualified-banget, diterima di jurusan HI manapun adalah sangat mungkin bagi dia. Namun, kenyataan berkata lain sodara-sodara.
Tidak satupun HInya tembus. Dalam sesaat, gue juga ikutan galau. Asli galau banget. Mungkin karena ikatan batin yang tadi.
..
Hari-hari berlalu, temen gue merasa sangat beruntung diterima di jurusan yang sekarang Dia jalani. Beruntungnya lagi, Fuu punya temen yang juga temen SMAnya..
Temen Fuu yang juga temen gue ini (sebut saja namanya Ilaq) adalah anak salah satu dosen di tempat mereka kuliah. Suatu ketika, ayah Ilaq bertanya kepada anaknya ini,
Namun, nihil.
Hanya Fuu yang menempatkan jurusan ini di pilihan ketiga. Fuu lalu tambah penasaran dan ingin mendengar lebih lanjut obrolan antara Ilaq dan ayahnya.
Ada satu fakta yang sangat bertolak belakang dengan fakta bahwa Fuu berhasil merah 54 poin di SNMPTN. Fuu nggak-pernah-sama-sekali-belajar IPA. Berhari-hari sebelum hari-H ujian, IPS adalah menu wajib yang dilahap oleh Fuu. Dimana gue ketemu Fuu, disitu dia belajar IPS bersama dengan Veda(temen gue dan Fuu lainnya). Dia ngira bakal lolos (setidaknya) dipilihan kedua yang juga jalur IPS.
Sejak saat itu, Fuu semakin mantab dengan jalannya di tekim. Ayah Fuu sempat bertanya "Kamu nggak pengen nyoba lagi?", tetapi Dia enggan. Fuu yakin dengan pilihan Allah ini, karena memang ini yang sudah digariskan.
Siapa sih yang nolak kalo dikasih hadiah gratisan? :)
Hari-hari berlalu, temen gue merasa sangat beruntung diterima di jurusan yang sekarang Dia jalani. Beruntungnya lagi, Fuu punya temen yang juga temen SMAnya..
Temen Fuu yang juga temen gue ini (sebut saja namanya Ilaq) adalah anak salah satu dosen di tempat mereka kuliah. Suatu ketika, ayah Ilaq bertanya kepada anaknya ini,
"Itu ada anak smaga, cewek, lolos pilihan ke 3. bikin galau panitia. siapa itu lak?".Ilaq yang memang terkenal punya keingintahuan yang tinggi, memutuskan untuk mencari tahu, siapa cewek yang dimaksud. Masa-masa penerimaan mahasiswa baru tiba, tanpa babibu, Ilaq mulai bertanya kepada seluruh teman satu angkatannya..
"Kamu masuk sini lewat jalur apa? Pilihan ke 3?".Bahkan mahasiswa laki-lakipun menjadi bulan-bulanan pertanyaan Ilaq ini..
Namun, nihil.
Hanya Fuu yang menempatkan jurusan ini di pilihan ketiga. Fuu lalu tambah penasaran dan ingin mendengar lebih lanjut obrolan antara Ilaq dan ayahnya.
"Tekim tu ga pernah ngambil pilihan ke 3 biasanya. kesannya kayak dilecehin kan masak PG teknik paling tinggi dimasukinnya pilihan ke 3. Kalo di tekim tu pilihan 1 nilainya 42 dilolosin, tp kalo milih pilihan ke 2 nilai minim 48 baru dilolosin. Nah pilihan 3 biasanya ga pernah. tp temenmu itu nilainya 54, jadi pada bingung dilolosin apa nggak"Jantung Fuu: deg
Ada satu fakta yang sangat bertolak belakang dengan fakta bahwa Fuu berhasil merah 54 poin di SNMPTN. Fuu nggak-pernah-sama-sekali-belajar IPA. Berhari-hari sebelum hari-H ujian, IPS adalah menu wajib yang dilahap oleh Fuu. Dimana gue ketemu Fuu, disitu dia belajar IPS bersama dengan Veda(temen gue dan Fuu lainnya). Dia ngira bakal lolos (setidaknya) dipilihan kedua yang juga jalur IPS.
"..dan nilai 54 tu ga mungkin dari aku sendiri. ga mungkin. dan aku sblmnya rela masukin pilihan tekim karena aku santai aku gabakal lolos disitu, soalnya PGnya tinggi tp aku ga pernah bljr. jd mgkn menurutku komunikasi ugmnya masih bisa tembus. menurutku... tapi ternyata Allah berkata lain"
Sejak saat itu, Fuu semakin mantab dengan jalannya di tekim. Ayah Fuu sempat bertanya "Kamu nggak pengen nyoba lagi?", tetapi Dia enggan. Fuu yakin dengan pilihan Allah ini, karena memang ini yang sudah digariskan.
Siapa sih yang nolak kalo dikasih hadiah gratisan? :)
Disatu kesempatan, dia cerita kalau memang ortunya kurang setuju
dengan pilihannya (agak lupa bagian yang ini). Disaat itu juga, gue
percaya kalau restu ortu adalah restu Allah, Yang memutuskan segala
sesuatu. Waktu itu gue juga liat beberapa kalimat yang entah datangnya
dari novel atau apa, yang kurang lebih berbunyi
"Allah punya cara menjawab doa kita.. iya, tidak sekarang, tidak Aku punya rencana yang lebih baik"
...
Bulan berganti, tahun berlalu, gue jadi tidak begitu mengikuti apa yang dia lakukan saat ini
sampai beberapa hari yang lalu ada kabar, dia jadi delegasi LIMUN 2013
It was shocking.
Seneng banget, akhirnya (mungkin) salah satu impian temen gue ini tercapai. Nggak perlu masuk HI dan jadi diploma dulu biar bisa abroad, itu yang terlintas dalam benak gue.
Mungkin,
Waktu temen gue dinyatakan tidak lolos HI, dalam doanya Allah menjawab "Tidak, Aku punya rencana yang lebih baik"

makanya perbaiki dulu tu akhlakmu
ReplyDelete